RUUD Khilafah Pasal 27 – Baiat dan Konsekuensinya

Pengantar

Baiat adalah hak semua kaum Muslim. Baiat bahkan merupakan kewajiban setiap Muslim. Tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan; semuanya wajib melakukan baiat. Rasulullah saw. bersabda:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَة جَاهِلِيَّة

Siapa saja yang mati, sementara di pundaknya tidak ada baiat (kepada Khalifah), maka dia mati (dalam keadaan berdosa), seperti mati Jahiliah (HR Muslim).

Lalu bagaimana baiat itu dilakukan oleh kaum Muslim dan apa konsekuensinya. Telaah Kitab kali ini akan membahas Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam pasal 27, yang berbunyi: Apabila akad Khilafah telah selesai dengan pembaiatan oleh pihak yang berhak melakukan baiat in’iqad (pengangkatan), maka baiat oleh kaum Muslim lainnya adalah baiat taat, bukan baiat in’iqad. Setiap orang yang menunjukkan adanya potensi melakukan pemberontakan dan memecah kekuasaan kaum Muslim dipaksa untuk berbaiat (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 126).
Dua Jenis Baiat

Jika kita mengamati dengan teliti peristiwa-peristiwa pembaiatan kepala negara (khalifah), maka kita dapati ada dua jenis baiat. Pertama: baiat pengangkatan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu (ahlul hall wal ‘aqd) kepada imam atau khalifah. Kedua: baiat dari kaum Muslim yang lain untuk ketaatan. Baiat yang pertama disebut dengan bai’ah al-khâshshah (baiat khusus) dan yang kedua disebut dengan bai’ah al-‘âmmah atau baiat umum (Mahmud, Bai’ah fi al-Islam Târîkhuhâ wa Aqsâmuhâ bayna an-Nadzariyah wa at-Tathbîq, hlm. 164).

Syaikh Taqiyuddin rahimahullâh menyebut baiat yang pertama dengan bai’ah al-in’iqâd, dan untuk yang kedua dengan bai’ah ath-thâ’ah (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah II, hlm. 44). Hal yang sama juga disebutkan oleh ath-Thabari, Ibnu Hisyam, Ibnu Qutaibah dan al-Qalqasyandi. Ibnu Hisyam berkata bahwa baiat kaum Muslim terhadap Abu Bakar ra. di Syaqifah adalah sebagai bai’ah al-‘iniqâd. Setelah itu orang-orang membaiat beliau sebagai bai’ah al-‘âmmah atau bai’ah ath-thâ’ah (Khalidi, Baiat dalam Persepektif Pemikiran Politik Islam, hlm. 116).

Dengan demikian, baiat untuk kepala negara (khalifah) itu ada dua, yaitu bai’ah al-‘iniqâd dan bai’ah ath-thâ’ah. Ada perbedaan di antara keduanya.
Baiat In’iqad

Baiat in’iqâd (bai’ah al-in’iqâd) adalah baiat pengangkatan atau penyerahan Kekhilafahan. Dengan baiat ini, orang yang dibaiat sebagai pemilik kekuasaan berhak untuk ditaati. Dengan kata lain, baiat in’iqâd merupakan akad Khilafah yang harus dilakukan dengan kerelaan dan pilihan. Kerelaan itu harus ada, baik dari yang membaiat maupun dari yang dibaiat. Dengan demikian, orang yang dibaiat itu tidak dikatakan sah menjadi kepala negara (khalifah), kecuali setelah dibaiat dengan baiat in’iqâd.

Dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar ra., Imam Asy-Syaukani mengatakan:

Saat para Sahabat menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah, mereka menyerahkan Kekhilafahan kepada Abu Bakar berdasarkan ijmak (konsensus) mereka yang hadir. Meskipun ada beberapa Sahabat yang tidak ikut dalam pembaiatan Abu Bakar di Saqifah, karena mereka telah berada di sejumlah daerah sebelum Nabi saw. wafat, dan bahkan ada sejumlah Sahabat yang di Madinah juga tidak ikut dalam pembaiatan tersebut, hal itu tidak berpengaruh terhadap apa yang telah disepakati oleh mayoritas (Asy-Syaukani, Irsyâd al-Fuhûl ila Tahqîq al-Haq min ‘Ilmi al-Ushûl, I/418).
Artinya, baiat in’iqâd terhadap Abu Bakar ra. di Saqifah adalah sah sekalipun tidak diikuti oleh semua Sahabat. Pasalnya, mereka yang membaiat adalah para tokoh masyarakat yang pendapat dan pemikirannya dihormati serta dikenal sebagai orang-orang yang memelihara keterikatan kuat dengan hukum syariah. Dengan kata lain, mereka adalah ahlul hall wal ‘aqd atau ahlul ikhtiyâr (orang-orang pilihan dan terpandang).

Sehubungan dengan hal ini, Imam an-Nawawi berkata, “Akad Khilafah itu dinyatakan sah hanya dengan baiat, yang lebih baik dilakukan melalui baiat ahlul hall wal ‘aqd, di mana mereka itu mudah untuk berkumpul.” (An-Nawawi, Nihâyah al-Muhtâj ila Syarhi al-Minhâj, VII/390).

Sejalan dengan ini adalah pendapat Imam al-Mawardi mengenai eksistensi ahlul ikhtiyâr (orang-orang pilihan dan terpandang), “Mereka dapat dijadikan hujjah dan dengan baiat mereka ini diserahkan Kekhilafahan.” (Al-Mawardi, al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm. 15).

Demikianlah pendapat para ulama bahwa akad Khilafah terjadi melalui baiat ahlul hall wal ‘aqd, yang oleh sebagian yang lain disebut dengan ahlul ikhtiyâr (orang-orang pilihan dan terpandang). Dengan demikian, baiat in’iqâd ini terbatas pada jumlah tertentu di antara kaum Muslim, tidak harus seluruh kaum Muslim. Apabila baiat in’iqâd ini telah selesai maka jadilah orang yang dibaiat itu sebagai kepala Negara Islam, Khalifah (Khalidi, Baiat dalam Persepektif Pemikiran Politik Islam, hlm. 119).

Dalil bahwa baiat in’iqâd menjadikan orang yang dibaiat sebagai kepala negara adalah fakta dalam pembaiatan keempat Khulafaur Rasyidin, karena itu merupakan Ijmak Sahabat. Misalnya, pembaiatan Abu Bakar ra. cukup dengan baiat ahlul hall wal ‘aqd yang dilakukan di Madinah saja. Pembaiatan Umar bin Khaththab ra. dan Utsman bin Affan ra. cukup dengan mengambil pendapat dan baiat kaum Muslim di Madinah saja. Pembaiatan Ali cukup dengan baiat mayoritas penduduk Madinah dan Kufah. Ini semua menunjukkan bahwa bukan suatu keharusan adanya baiat seluruh kaum Muslim hingga baiat in’iqâd dapat dikatakan sah, namun cukup dengan baiat mayoritas yang dapat mewakili kaum Muslim. Adapun yang lain, jika membaiat, maka baiatnya adalah bai’ah ath-thâ’ah, baiat taat (An-Nabhani, Muqaddi-mah ad-Dustûr, hlm. 127).
Baiat Taat

Baiat taat adalah baiat dari mayoritas kaum Muslim kepada orang yang telah selesai dibaiat dengan baiat in’iqâd (baiat pengangkatan). Sebab, demikianlah praktik yang pernah terjadi dalam pembaiatan Khulafaur Rasyidin. Mengingat akad Khilafah (baiat ‘iniqâd) dilakukan melalui baiat mereka yang berada di ibukota negara saja, selanjutnya Khalifah dibaiat oleh seluruh kaum Muslim yang lain.

Ibnu Qutaibah berkata, “Pada hari yang sama ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar ra. dibaiat—sebagai baiat in’iqâd—di Saqifah Bani Sa’idah bin Ka’ab bin al-Khazraj, kemudian besoknya, pada hari Selasa, ia dibaiat dengan baiat umum, yakni baiat taat (Ibnu Qutaibah, Al-Ma’ârif, hlm. 74).

Lebih jelasnya lagi, Ibnu Ishak meriwayatkan dari Anas bin Malik ra. yang berkata:

Setelah Abu Bakar dibaiat di Saqifah, besoknya Abu Bakar duduk di atas mimbar. Lalu Umar berdiri dan berbicara sebelum Abu Bakar berbicara. Umar memuji dan menyanjung Allah SWT, sebab hanya Allah semata yang berhak untuk dipuji dan disanjung. Kemudian Umar berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjaga Kitab-Nya di tengah kalian, yang dengan itu Rasulullah membimbing kalian. Karena itu, jika kalian berpegang teguh dengan Kitab-Nya, maka Allah pasti memberi petunjuk kepada kalian. Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan urusan kalian pada orang yang terbaik di antara kalian. Dia adalah sahabat setia Rasulullah dan orang kedua ketika keduanya tengah berada di gua. Dengan demikian dia merupakan orang yang paling layak untuk mengurusi urusan kalian. Untuk itu, bangkitlah, lalu berbaiatlah.” Lalu orang-orang pun membaiat Abu Bakar sebagai baiat umum (taat) setelah baiat yang berlangsung di Saqifah (Mahmud, Bai’ah fi al-Islam Târîkhuhâ wa Aqsâmuhâ bayna an-Nadzariyah wa at-Tathbîq, hlm. 177).
Dengan demikian, masalah baiat umum (taat) ini menjadi sangat jelas. Baiat umum ini dilakukan setelah selesainya baiat ‘iniqâd. Khalifah sebagai pemegang kekuasaan—setelah selesainya baiat in’iqâd—kemudian dibaiat dengan baiat secara umum yang merupakan bai’ah ath-thâ’ah sebagai ekspresi kerelaan dan penerimaan kepadanya menjadi penguasa, yang akan menerapkan hukum-hukum syariah, menjalankan hudud, mengumpulkan zakat, mengemban dakwah, dan mengumumkan jihad.

Dengan demikian, baiat taat adalah baiat yang diwajibkan oleh syariah, yang dilakukan setelah selesainya baiat in’iqâd. Baiat taat diambil dari semua manusia, namun tidak disyaratkan bahwa setiap kaum Muslim harus memberikannya secara langsung; cukup dengan menampakkan kepatuhan dan ketundukan kepada Khalifah yang mendapat kepemimpinan negara secara konstitusional. Pasalnya, menaati Khalifah hukumnya wajib. Baiat taat merupakan tindakan-tindakan politik sebagai ekspresi ketundukan terhadap perintah penguasa, tidak membangkang (melawan) undang-undang yang telah diadopsi Khalifah dan semua aturan yang diberlakukan Khalifah (Khalidi, Baiat dalam Persepektif Pemikiran Politik Islam, hlm. 124).
Konsekuensi Baiat

Dari kedua jenis baiat ini, maka baiat in’iqâd-lah yang merupakan representasi dari kekuasaan umat—pada pilar kedua sistem pemerintahan Islam, yaitu “as-sulthân lil ummah, kekuasaan berada di tangan rakyat”—bukan baiat taat. Pasalnya, kekuasaan tidak beralih kepada kepala negara (khilafah) kecuali dengan baiat in’iqâd.

Apabila baiat in’iqâd telah selesai dilakukan dan jabatan Kekhilafahan telah diserahkan, maka akan ada konsekuensi-konsekuensi baru, baik konsekuensi yang terkait dengan penguasa maupun yang terkait dengan rakyat.

Konsekuensi yang terkait dengan rakyat, maka rakyat berhak agar penguasa memerintah mereka sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah serta agar penguasa terikat dengan syariah dalam setiap tindakannya yang berhubungan dengan pembuatan undang-undang, keuangan dan kepribadiannya (Khalidi, Baiat dalam Persepektif Pemikiran Politik Islam, hlm. 120).

Adapun konsekuensi yang terkait dengan penguasa (Khalifah), maka setelah selesainya baiat in’iqâd, Khalifah berhak ditaati dan ditolong. Artinya, konsekuensi pertama terhadap penguasa (khalifah) setelah selesainya baiat in’iqâd adalah baiat taat. Sebab, baiat taat merupakan hak penguasa (Khalifah) yang diambil dari seluruh kaum Muslim, bahkan harus diperangi orang yang dirasa hendak melakukan pemberontakan dari baiat taat ini. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ

Siapa saja yang telah membaiat seorang imam/khalifah, lalu memberikan uluran tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia menaati khalifah itu selama masih mampu. Kemudian jika datang orang lain yang akan merebut kekuasaannya, maka penggallah leher orang itu (HR Muslim).
Selain itu, tidak adanya seorang pun di antara para Sahabat yang mengingkari tindakan Imam Ali karramallahu wajhah ketika beliau memaksa Muawiyah agar berbaiat, begitu juga ketika beliau memaksa Thalhah dan Zubair agar membaiat beliau. Hal itu dinilai sebagai ijma’ sukuti dan merupakan dalil syariah bahwa untuk melakukan baiat taat seseorang boleh dipaksa (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 127; Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah II, hlm. 23).

Dengan ketentuan pasal 27 dari (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam ini, keberlangsungan stabilitas negara akan terjamin. Selain itu, kemungkinan munculnya kelompok-kelompok separatis yang membawa pada sesuatu yang sangat diharamkan dalam Islam, yaitu pemisahan wilayah, akan tertutup. WalLâhu a’lam bish-shawâb. [Muhammad Bajuri]
Daftar Bacaan

Ibnu Qutaibah, Abdullah ad-dainuri, Al-Ma’ârif (Mesir: al-Maktabah al-Husainiyah), 1934.

Al-Khalidi, Dr. Mahmud, Baiat dalam Persepektif Pemikiran Politik Islam (Terjemahan Muhammad Bajuri) (Bangil: Al-Izzah), Cetakan I, 2002.

Al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib, Al-Ahkâm as-Sulthâniyah (Beirut: Dar al-Fikr), Cetakan I, 1960.

An-Nabhani, Asy-Syaikh Taqiyuddin, Muqaddimah ad-Dustûr aw al-Asbâb al-Mujîbah Lahu, Jilid I, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan II, 2009.

An-Nabhanai, Asy-Syaikh Taqiyuddin, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah II, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan V, 2003.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf, Nihâyah al-Muhtâj ila Syarhi al-Minhâj (Syirkah Mustafa al-Halabi), 1933.

Mahmud, Dr. Ahmad Mahmud Alu, Bai’ah fi al-Islam Târîkhuhâ wa Aqsâmuhâ bayna an-Nadzariyah wa at-Tathbîq, (Dar ar-Razi), tanpa tahun.

Asy-Syaukani, Muhammad Ali, Irsyâdul Fuhûl ila Tahqîq al-Haq min Ilmil Ushûl (Riyadh, Dar al-Fadhilah), Cetakan I, 2000.

One Response to RUUD Khilafah Pasal 27 – Baiat dan Konsekuensinya

  1. Pingback: Selamat Datang di Khilafah Publications « Khilafah Publications

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: